Sejarah Scotland

Sejarah

 

Penobatan Raja Alexander di Moot Hill, Scone, ibukota kuno dan tempat penobatan raja-raja Skotlandia. Ia disambut oleh ollamh rígh, penyair kerajaan, yang menyapanya dengan pernyataan “Benach De Re Albanne” (= Beannachd Dé Rígh Alban, “Kiranya Tuhan Memberkati Raja Skotlandia”); lalu sang penyair melanjutkan dengan mengucapkan silsilah Alexander.

Kerajaan Skotlandia dipersatukan pada 843, oleh Raja Cináed I dari Skotlandia. Selama 850 tahun berikutnya, kerajaan ini mengembangkan sistem hukum dan pendidikannya sendiri — yang masih berlaku hingga sekarang — serta satuan mata uang dan ukurannya sendiri. Mulanya, kerajaan ini terbatas di daerah sebelah utara Sungai Forth dan Clyde. Wilayah barat daya Skotlandia tetap berada di bawah kekuasaan orang-orang Brython Strathclyde. Skotlandia tenggara sejak sekitar 638 berada di bawah kekuasaan kerajaan proto-Inggris Bernicia, lalu Kerajaan Northumbria. Bagian Skotlandia ini diperebutkan sejak masa Constantine II dan akhirnya jatuh ke tangan orang-orang Skotlandia pada 1018, ketika Máel Coluim II memperluas perbatasannya hingga ke selatan sampai ke Sungai Tweed. Wilayah ini tetap merupakan perbatasan tenggaranya hingga saat ini (kecuali sekitar Berwick-upon-Tweed).

Pada 1263 Skotlandia dan Norwegia berperang dalam Pertempuran Largs untuk menguasai Western Isles. Pertempuran ini tidak menghasilkan kemenangan pada pihak manapun, namun membuktikan sekali untuk selama-lamanya bahwa orang-orang Norse tidak mampu mempertahankan kekuasaan yang efektif terhadap pulau-pulau yang jauh letaknya. Pada 1266 raja Norwegia Magnus VI dari Norwegia menandatangani Perjanjian Perth, yang mengakui kekuasaan Skotlandia dan hak untuk memungut upeti atas pulau-pulau itu. Meskipun perjanjian ini telah ditandatangani, para praktiknya, para tuan di kepulauan tersebut (Lord of the Isles) tetap berkuasa.

Aliansi Lama (Auld Alliance) adalah aliansi penting antara Skotlandia dan Perancis. Aliansi ini terbentuk sejak ditandatanganinya perjanjian oleh John Balliol dengan Philip IV dari Perancis, in 1295. Aliansi ini memainkan peranan penting namun berubah-ubah dalam hubungan antara Perancis-Skotlandia (dan Inggris), hingga 1560. Pada 1512 di bawah suatu perjanjian yang memperluas Auld Alliance, semua warga negara Skotlandia dan Perancis juga menjadi warga negara dari negara yang lainnya. Status ini baru dibatalkan di Perancis pada 1903 sementara di Skotlandia tak pernah dibatalkan.

Raja-raja Skotlandia sangat mengutamakan pentingnya penguasaan atas Stirling yang strategis, yang meneybabkan pertempuran Jembatan Stirling dan Bannockburn pada Perang Kemerdekaan Skotlandia, ketika tokoh-tokoh bersejarah seperti William Wallace dan Robert the Bruce muncul. Pada 1320 a remonstrance kepada Paus dari para bangsawan Skotlandia ( Deklarasi Arbroath) akhirnya meyakinkan Paus Yohanes XXII untuk membatalkan eks-komunikasi yang sebelumnya dan membatalkan berbagai Undang-Undang ketaatan Akta oleh raja-raja Skotlandia kepada raja-raja Inggris sehingga kedaulatan Skotlandia dapat diakui oleh dinasti-dinasti penting Eropa.

Pada 1468 wilayah terakhir yang diakuisisi oleh Skotlandia diperoleh ketika James III menikah dengan Margaret dari Denmark. Ia memperoleh Kepulauan Orkney dan Kepulauan Shetland sebagai bayaran mas kawinnya dan, pada 1493, anaknya, James IV, berhasil mengakhiri pemerintahan yang setengah independent dari para Lord of the Isles, dan meletakkan Kepulauan Western untuk pertama kalinya di bawah kekuasaan kerajaan.

Pemerintahan James IV seringkali dianggap sebagai periode perkembangan kebudayaan. Pada masa inilah Renaisans Eropa mulai menyusup ke Skotlandia. Skotlandia berkembang pesat dalam pendidikan pada abad ke-15 dengan didirikannya Universitas St Andrews pada 1413, Universitas Glasgow pada 1450 dan Universitas Aberdeen pada 1494, serta dengan disetujuinya Undang-Undang Pendidikan 1496.

Pada abad ke-16, Skotlandia mengalami Reformasi Protestan. Pada bagian awal dari abad ini, ajaran-ajaran Martin Luther dan belakangan Yohanes Calvin mulai mempengaruhi Skotlandia. Hukuman mati yang dijatuhi atas sejumlah pendeta Protestan, terutama sekali Lutheran mempengaruhi Patrick Hamilton pada 1527 dan belakangan George Wishart yang Calvinis pada 1546 yang dibakar di tiang di St. Andrews oleh Kardinal Beaton karena tuduhan ajaran sesat, tidak berhasil menghalangi perkembangan gagasan-gagasan ini. Beaton was dibunuh tak lama setelah menghukum mati George Wishart.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s